Tampilkan postingan dengan label kanker serviks. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kanker serviks. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 April 2010

13 Fakta kanker serviks


Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, penyakit kanker serviks merupakan penyebab utama kematian akibat kanker. Di dunia, setiap dua menit seorang wanita meninggal dunia akibat kanker serviks. Jadi, jangan lagi memandang ancaman penyakit ini dengan sebelah mata. Berikut 13 hal yang wajib Anda ketahui tentang kanker serviks.

1. Apa itu kanker serviks?

Kanker serviks atau kanker leher rahim adalah jenis penyakit kanker yang terjadi pada daerah leher rahim. Yaitu, bagian rahim yang terletak di bawah, yang membuka ke arah liang vagina. Berawal dari leher rahim, apabila telah memasuki tahap lanjut, kanker ini bisa menyebar ke organ-organ lain di seluruh tubuh.


2. Seberapa berbahaya penyakit kanker serviks ini?

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, saat ini penyakit kanker serviks menempati peringkat teratas di antara berbagai jenis kanker yang menyebabkan kematian pada perempuan di dunia. Di Indonesia, setiap tahun terdeteksi lebih dari 15.000 kasus kanker serviks, dan kira-kira sebanyak 8000 kasus di antaranya berakhir dengan kematian. Menurut WHO, Indonesia merupakan negara dengan jumlah penderita kanker serviks yang tertinggi di dunia. Mengapa bisa begitu berbahaya? Pasalnya, kanker serviks muncul seperti musuh dalam selimut. Sulit sekali dideteksi hingga penyakit telah mencapai stadium lanjut.


3. Apa penyebab kanker serviks?

Kanker serviks disebabkan oleh virus HPV (Human Papilloma Virus). Virus ini memiliki lebih dari 100 tipe, di mana sebagian besar di antaranya tidak berbahaya dan akan lenyap dengan sendirinya. Jenis virus HPV yang menyebabkan kanker serviks dan paling fatal akibatnya adalah virus HPV tipe 16 dan 18. Namun, selain disebabkan oleh virus HPV, sel-sel abnormal pada leher rahim juga bisa tumbuh akibat paparan radiasi atau pencemaran bahan kimia yang terjadi dalam jangka waktu cukup lama.


4. Bagaimana penularan kanker serviks?

Penularan virus HPV bisa terjadi melalui hubungan seksual, terutama yang dilakukan dengan berganti-ganti pasangan. Penularan virus ini dapat terjadi baik dengan cara transmisi melalui organ genital ke organ genital, oral ke genital, maupun secara manual ke genital. Karenanya, penggunaan kondom saat melakukan hubungan intim tidak terlalu berpengaruh mencegah penularan virus HPV. Sebab, tak hanya menular melalui cairan, virus ini bisa berpindah melalui sentuhan kulit.


5. Apa saja gejala kanker serviks?

Pada tahap awal, penyakit ini tidak menimbulkan gejala yang mudah diamati. Itu sebabnya, Anda yang sudah aktif secara seksual amat dianjurkan untuk melakukan tes pap smear setiap dua tahun sekali. Gejala fisik serangan penyakit ini pada umumnya hanya dirasakan oleh penderita kanker stadium lanjut. Yaitu, munculnya rasa sakit dan perdarahan saat berhubungan intim (contact bleeding), keputihan yang berlebihan dan tidak normal, perdarahan di luar siklus menstruasi, serta penurunan berat badan drastis. Apabila kanker sudah menyebar ke panggul, maka pasien akan menderita keluhan nyeri punggung, hambatan dalam berkemih, serta pembesaran ginjal.


6. Berapa lama masa pertumbuhan kanker serviks?

Masa preinvasif (pertumbuhan sel-sel abnormal sebelum menjadi keganasan) penyakit ini terbilang cukup lama, sehingga penderita yang berhasil mendeteksinya sejak dini dapat melakukan berbagai langkah untuk mengatasinya. Infeksi menetap akan menyebabkan pertumbuhan sel abnormal yang akhirnya dapat mengarah pada perkembangan kanker. Perkembangan ini memakan waktu antara 5-20 tahun, mulai dari tahap infeksi, lesi pra-kanker hingga positif menjadi kanker serviks.


7. Benarkah perokok berisiko terjangkit kanker serviks?

Ada banyak penelitian yang menyatakan hubungan antara kebiasaan merokok dengan meningkatnya risiko seseorang terjangkit penyakit kanker serviks. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan di Karolinska Institute di Swedia dan dipublikasikan di British Journal of Cancer pada tahun 2001. Menurut Joakam Dillner, M.D., peneliti yang memimpin riset tersebut, zat nikotin serta "racun" lain yang masuk ke dalam darah melalui asap rokok mampu meningkatkan kemungkinan terjadinya kondisi cervical neoplasia atau tumbuhnya sel-sel abnormal pada rahim. "Cervical neoplasia adalah kondisi awal berkembangnya kanker serviks di dalam tubuh seseorang," ujarnya.


8. Selain itu, siapa lagi yang berisiko terinfeksi kanker serviks?

Perempuan yang rawan mengidap kanker serviks adalah mereka yang berusia antara 35-50 tahun, terutama Anda yang telah aktif secara seksual sebelum usia 16 tahun. Hubungan seksual pada usia terlalu dini bisa meningkatkan risiko terserang kanker leher rahim sebesar 2 kali dibandingkan perempuan yang melakukan hubungan seksual setelah usia 20 tahun. Kanker leher rahim juga berkaitan dengan jumlah partner seksual. Semakin banyak partner seksual yang Anda miliki, maka kian meningkat pula risiko terjadinya kanker leher rahim. Sama seperti jumlah partner seksual, jumlah kehamilan yang pernah dialami juga meningkatkan risiko terjadinya kanker leher rahim.

Anda yang terinfeksi virus HIV dan yang dinyatakan memiliki hasil uji pap smear abnormal, serta para penderita gizi buruk, juga berisiko terinfeksi virus HPV. Pada Anda yang melakukan diet ketat, rendahnya konsumsi vitamin A, C, dan E setiap hari bisa menyebabkan berkurangnya tingkat kekebalan pada tubuh, sehingga Anda mudah terinfeksi.


9. Bagaimana cara mendeteksi kanker serviks?

Pap smear adalah metode pemeriksaan standar untuk mendeteksi kanker leher rahim. Namun, pap smear bukanlah satu-satunya cara yang bisa dilakukan untuk mendeteksi penyakit ini. Ada pula jenis pemeriksaan dengan menggunakan asam asetat (cuka) yang relatif lebih mudah dan lebih murah dilakukan. Jika menginginkan hasil yang lebih akurat, kini ada teknik pemeriksaan terbaru untuk deteksi dini kanker leher rahim, yang dinamakan teknologi Hybrid Capture II System (HCII).


10. Bisakah kanker serviks dicegah?

Meski menempati peringkat tertinggi di antara berbagai jenis penyakit kanker yang menyebabkan kematian, kanker serviks merupakan satu-satunya jenis kanker yang telah diketahui penyebabnya. Karena itu, upaya pencegahannya pun sangat mungkin dilakukan. Yaitu dengan cara tidak berhubungan intim dengan pasangan yang berganti-ganti, rajin melakukan pap smear setiap dua tahun sekali bagi yang sudah aktif secara seksual, memelihara kesehatan tubuh, dan melakukan vaksinasi HPV bagi yang belum pernah melakukan kontak secara seksual.


11. Haruskah mengambil vaksinasi HPV untuk kanker serviks?

Pada pertengahan tahun 2006 telah beredar vaksin pencegah infeksi HPV tipe 16 dan 18 yang menjadi penyebab kanker serviks. Vaksin ini bekerja dengan cara meningkatkan kekebalan tubuh dan menangkap virus sebelum memasuki sel-sel serviks. Selain membentengi dari penyakit kanker serviks, vaksin ini juga bekerja ganda melindungi perempuan dari ancaman HPV tipe 6 dan 11 yang menyebabkan kutil kelamin.

Yang perlu ditekankan adalah, vaksinasi ini baru efektif apabila diberikan pada perempuan berusia 9 sampai 26 tahun yang belum aktif secara seksual. Vaksin diberikan sebanyak 3 kali dalam jangka waktu tertentu. Dengan vaksinasi, risiko terkena kanker serviks bisa menurun hingga 75%. Ada kabar gembira, mulai tahun ini harga vaksin yang semula Rp 1.300.000,- sekali suntik menjadi Rp 700.000,- sekali suntik.


12. Apakah vaksinasi kanker serviks ini memiliki efek samping?

Vaksin ini telah diujikan pada ribuan perempuan di seluruh dunia. Hasilnya tidak menunjukkan adanya efek samping yang berbahaya. Efek samping yang paling sering dikeluhkan adalah demam dan kemerahan, nyeri, dan bengkak di tempat suntikan. Efek samping yang sering ditemui lainnya adalah berdarah dan gatal di tempat suntikan. Vaksin ini sendiri tidak dianjurkan untuk perempuan hamil. Namun, ibu menyusui boleh menerima vaksin ini.

13. Kalau sudah terinfeksi kanker serviks, bisakah disembuhkan?

Berhubung tidak mengeluhkan gejala apa pun, penderita kanker serviks biasanya datang ke rumah sakit atau dokter ketika penyakitnya sudah mencapai stadium 3. Solusi yang biasanya mereka tempuh adalah operasi, kemoterapi dan radiasi. Namun, pengobatan kanker seperti ini hanya parsial, berbiaya tinggi dan mempunyai peluang kesembuhan kecil. Oleh karena itu dibutuhkan pengobatan yang holistik secara menyeluruh kepada si pasien. Pendampingan (off line maupun online) yang disediakan oleh kami, Vermindo, sangatlah membantu bagi penderita. Pendampingan meliputi : Spiritual, emosi, mental dan fisik. Itulah fungsi pendampingan kanker (ReKan= Relawan Kanker). TYPOK akan memperbaiki dari dalam.

Masalahnya, kanker serviks yang sudah mencapai stadium 2 sampai stadium 4 telah mengakibatkan kerusakan pada organ-organ tubuh, seperti kandung kemih, ginjal, dan lainnya. Karenanya, operasi pengangkatan rahim saja tidak cukup membuat penderita sembuh seperti sedia kala. Selain operasi, penderita masih harus mendapatkan terapi tambahan, seperti radiasi dan kemoterapi. Langkah tersebut sekalipun tidak dapat menjamin 100% penderita mengalami kesembuhan.

Editor : anthonius_iwan
Source : Kompas.com

Sebuah studi baru yang dilakukan para peneliti Amerikamenemukan bahwa Human Papillomavirus (HPV) yangkini merupakan penyebab kasus kanker mulut yangsama banyaknya dengan tembakau dan alkohol, akan menjadi penyebab utama dalam 10 tahun ke depan. Para peneliti menduga hal ini disebabkan perubahan dalam perilaku seksual pria dan penurunan kanker mulut yang tidak berkaitan dengan HPV.
Studi ini dipublikasikan pada awal Februari 2008 dalam edisi pertama Journal of Clinical Oncology dan dilakukan oleh para peneliti di divisi Epidemiologi dan Genetik Kanker, Institut Kanker Nasional, Bethesda, Maryland dan Institusi Medis Johns Hopkins, Baltimore yang juga berlokasi di Maryland.
HPV telah diketahui sebagai penyebab kanker serviks (mulut rahim) pada wanita dan telah diadakan program vaksinasi di banyak negara termasuk Amerika untuk mengimunisasi gadis dan wanita muda terhadap strain HPV.
Virus yang menyebar melalui hubungan seksual ini diduga sebagai penyebab lebih dari 70% kasus kanker serviks dimana ditemukan 12.000 kasus baru dan menyebabkan hampir 4.000 kematian diAmerika saja setiap tahunnya.
Meskipun studi terdahulu telah menunjukkan adanya risiko kanker mulut dan kelamin sebagai akibat infeksi HPV tapi sampai kini belum ada program imunisasi HPV untuk pria. Dr. Nugroho Kampono, SpOG dari FKUI Jakarta mengungkapkan bahwa salah satu alasan belum perlunya vaksinasi HPV untuk pria karena prevalensi kanker akibat HPV pada pria jauh lebih rendah daripada wanita.
Produsen penemu vaksin HPV yaitu Merck & Co. dilaporkan akan meminta Food and Drug Administration (FDA) untuk menyetujui vaksin untuk pria tahun ini. Diharapkan dengan memvaksinasi pria dapat menghentikan penyebaran virus kepada wanita dan menurunkan kasus kanker serviks.
Studi terhadap pria sedang dilakukan dan ada bukti yangmenunjukkan bahwa memvaksinasi pria juga bermanfaat bagi dirinya. Selain kanker mulut, HPV juga menyebabkan kutil kelamin, kanker penis dan dubur.
Salah satu peneliti studi, dr. Maura Gillison dari Universitas Johns Hopkins berkata, “Kita perlu memulai diskusi mengenai kanker lain selain kanker serviks yang dapat dipengaruhi secara positif oleh vaksin HPV.”
dr. Maura Gillison menduga orang yang melakukan seks oral dengan 5 atau lebih pasangan selama hidupnya memiliki kemungkinan yang lebih besar mengalami kanker tenggorokan dan penyebabnya adalah strain HPV yang telah diketahui.
Dalam studi baru ini, Gillinson dan rekan penelitinya memeriksa hampir 46.000 kasus kanker mulut yang terjadi antara tahun 1973-2004 dimana data tersebut disediakan oleh Institut Kanker Nasional. Peneliti memisahkan kasus menjadi 2 kelompok yaituyang berkaitan dengan HPV (lebih dari 17.500) dan yang tidak berkaitan (lebih 28.000).


Hasilnya menunjukkan bahwa:


  • Kanker mulut akibat HPV didiagnosa pada usia yang lebih muda dibanding yang tidak berkaitan HPV (secara respektif, usia pria yangdidiagnosa adalah 61.0 dan 63.8 tahun).
  • Insiden kanker mulut akibat HPV meningkat secara signifikan dari tahun 1973 sampai 2004, umumnya terjadi pada pria muda berkulit putih.
  • Insiden kanker mulut yang tidak berkaitan HPV tidak berubah dan tetap stabil selama kurun waktu tahun 1973 sampai 1982, kemudian insiden semakin menurun setelahnya.
  • Peningkatan angka keselamatan hidup dari terapi radiasi lebih nyata untuk kanker akibat HPV dibandingkan yang tidak berkaitan.
Para peneliti mengambil kesimpulan bahwa kasus kanker sel skuamosa mulut (Oral Squamous Cell Carcinoma/OSCC) yangpotensial berkaitan dengan HPV meningkat di Amerika Serikat sejak 1973 sampai 2004, yang mungkin diakibatkan perubahan perilaku seksual. Kemajuan terbaru dalam angka keselamatan dengan radioterapi juga mengambil bagian dalam etiologi OSCC.
Diperlukan studi yang lebih banyak mengenai efek HPV terhadap pria, untuk mengimbangi bukti efeknya terhadap wanita yangtelah ada. Dari sekitar 40 strain HPV yang menyebar melalui hubungan seksual, sebanyak 13 strain diketahui menyebabkan kanker pada pria dan wanita.
Jangan salah persepsi, vaksin HPV yang sudah ada sekarang tidak dapat menyembuhkan infeksi melainkan hanya menghadang 4 strain HPV yang diketahui sebagai penyebab utama kanker serviks. Hal inilah yang menyebabkan program vaksinasi HPV ditujukan bagi para gadis sebelum mereka aktif secara seksual.